Mengapa Baterai Kendaraan Listrik Bisa Meledak? Fakta di Balik Fenomena Thermal Runaway

Perkembangan kendaraan listrik memang membawa banyak manfaat, mulai dari efisiensi energi hingga pengurangan emisi gas buang. Namun, di balik teknologi canggih tersebut, ada satu komponen penting yang kerap menjadi sorotan baterai lithium-ion.

Meski dikenal efisien dan tahan lama, baterai jenis ini juga memiliki risiko jika mengalami kegagalan. Salah satu kondisi paling berbahaya adalah Thermal Runaway, yang dapat menyebabkan kebakaran bahkan ledakan.

Apa Itu Thermal Runaway?

Thermal runaway adalah kondisi ketika suhu baterai meningkat secara tidak terkendali. Awalnya, kenaikan suhu ini bisa biasanya dipicu oleh tiga faktor utama: korsleting di dalam baterai, sistem atau pengaman yang gagal bekerja, atau pengisian daya berlebih (overcharge).

Saat suhu terus naik dan melewati batas aman, bagian pemisah di dalam baterai mulai rusak. Akibatnya, terjadi arus pendek yang melepaskan energi dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Panas yang dihasilkan kemudian memicu sel baterai lain di sekitarnya, sehingga api menyebar dengan sangat cepat.

Inilah alasan mengapa kebakaran baterai lithium-ion sulit dikendalikan dan bahkan bisa “meledak”.

Insiden Nyata yang Pernah Terjadi

Beberapa insiden besar di berbagai belahan dunia menjadi pengingat nyata, menunjukkan betapa seriusnya risiko thermal runaway jika tidak ditangani dengan baik.

1. Kebakaran Kantor Terra Drone Indonesia (Jakarta, 2025)

Sebuah kebakaran besar melanda kantor Terra Drone di Jakarta Selatan. Dugaan kuat mengarah pada ledakan baterai drone yang disimpan di dalam gedung. Peristiwa ini menunjukkan bahwa baterai berkapasitas tinggi, meski berukuran kecil, tetap memiliki risiko thermal runaway yang mampu menghanguskan seluruh bangunan.

2. Kebakaran Pabrik Komponen Lithium, Taiwan (Juli, 2025)

Sebuah fasilitas yang memproduksi dan menyimpan komponen baterai lithium terbakar hebat. Api sulit dipadamkan karena baterai lithium dapat menghasilkan oksigen sendiri saat terbakar, sehingga api tetap menyala meski disiram air.

3. Kebakaran Fasilitas Penyimpanan Baterai di California

Insiden di fasilitas penyimpanan energi skala besar (Battery Energy Storage System) memaksa evakuasi warga sekitar. Gas berbahaya yang dilepaskan selama kebakaran meningkatkan risiko ledakan lanjutan dan pencemaran udara.

Mengapa Kebakaran Baterai Sangat Berbahaya?

Kebakaran baterai lithium-ion berbeda dari kebakaran biasa. Ada beberapa alasan mengapa dampaknya lebih serius:

  • Pelepasan Gas Toksik: Selain api, baterai yang terbakar melepaskan uap kimia beracun seperti Hydrogen Fluoride (HF) yang dapat merusak sistem pernapasan secara permanen.
  • Suhu Ekstrem: Api lithium dapat mencapai suhu di atas 1000°C. Suhu seekstrem ini mampu melelehkan struktur logam kendaraan hingga merusak fondasi beton bangunan.
  • Fenomena Re-ignition (Penyalaan Kembali): Inilah aspek paling berbahaya. Baterai yang tampak sudah padam dapat menyala kembali berjam-jam bahkan berhari-hari kemudian. Hal ini terjadi karena masih adanya energi sisa yang terjebak di dalam sel yang belum sepenuhnya rusak.

Tips Meminimalisir Risiko Kebakaran Baterai

Meski risiko kebakaran baterai lithium-ion tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, kemungkinan terjadinya thermal runaway dapat ditekan secara signifikan dengan langkah pencegahan yang tepat. Baik produsen maupun pengguna memiliki peran penting dalam menjaga keamanan baterai.

1. Hindari Pengisian Daya Berlebihan

Mengisi daya terlalu lama atau menggunakan charger yang tidak sesuai spesifikasi dapat meningkatkan suhu baterai. Gunakan charger resmi atau yang direkomendasikan pabrikan, dan hindari kebiasaan mengisi daya hingga 100% terus-menerus jika tidak diperlukan.

2. Jangan Biarkan Baterai Terpapar Panas Ekstrim

Paparan suhu tinggi, seperti memarkir kendaraan di bawah terik matahari dalam waktu lama, dapat mempercepat degradasi baterai. Jika memungkinkan, parkirkan kendaraan di tempat teduh atau ruang tertutup yang memiliki sirkulasi udara baik.

3. Simpan dan Gunakan Baterai Sesuai Prosedur

Untuk baterai cadangan atau perangkat berbasis lithium-ion lainnya, simpan di tempat yang sejuk, kering, dan jauh dari benda mudah terbakar. Hindari menumpuk baterai tanpa pengaman yang memadai.

4. Jeda Waktu Pendinginan

Jangan langsung mengisi daya sesaat setelah kendaraan digunakan untuk perjalanan jauh atau medan berat. Berikan waktu minimal 15–30 menit agar suhu internal baterai turun terlebih dahulu.

5. Jangan Abaikan Tanda-Tanda Awal Masalah

Bau menyengat, panas berlebih, suara mendesis, atau penurunan performa baterai secara drastis bisa menjadi tanda awal masalah serius. Jika gejala ini muncul, hentikan penggunaan dan segera lakukan pemeriksaan.

Peran Penting Battery Management System (BMS)

Untuk mengurangi risiko tersebut, kendaraan listrik modern dilengkapi dengan Battery Management System (BMS). Sistem ini berfungsi sebagai “otak” pengaman baterai, dengan tugas utama:

  • Memantau suhu baterai
  • Mengatur tegangan dan arus
  • Mencegah pengisian daya berlebih
  • Memutus sistem jika terdeteksi kondisi berbahaya

BMS yang baik dapat secara signifikan menurunkan risiko thermal runaway dan membuat penggunaan kendaraan listrik jauh lebih aman.

Memahami risiko baterai kendaraan listrik bukan berarti kita harus takut menggunakannya. Justru sebaliknya, pengetahuan ini membantu kita lebih sadar akan pentingnya standar keamanan, perawatan yang benar, dan penggunaan sistem pengaman yang andal.

Dengan teknologi yang terus berkembang dan pengawasan yang tepat, kendaraan listrik tetap menjadi solusi masa depan yang aman dan ramah lingkungan.